Senin, 14 Juni 2010

Komoditi Teh di Indonesia


Teh merupakan salah satu komoditi yang mempunyai peran strategis dalam perekonomian Indonesia. Industri teh mampu memberikan kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar Rp 1,2 triliun (0,3% dari total PDB nonmigas). Komoditi ini juga menyumbang devisa sebesar 110 juta dollar AS setiap tahunnya (ATI, 2000).
Selain untuk menjaga fungsi hidrolis dan pengembangan agroindustri, perkebunan teh juga menjadi sektor usaha unggulan yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar. Rasio perbandingan tenaga kerja dengan luas lahannya 0,75. Karena itu perkebunan teh digolongkan sebagai industri padat karya (www.pkps.org). Tahun 1999 industri ini mampu menyerap 300.000 pekerja dan menghidupi sekitar 1,2 juta jiwa (Suprihatini Rohayati, Daya Saing Ekspor Teh Indonesia di Pasar Teh Dunia).

Potensi pengembangan komoditi teh Indonesia sangat besar. Produksi teh yang tinggi menempatkan Indonesia pada urutan kelima sebagai negara produsen teh curah, setelah India, Cina, Sri Lanka dan Kenya. Indonesia juga menduduki posisi kelima sebagai negara eksportir teh curah terbesar dari segi volume setelah Sri Lanka, Kenya, Cina dan India (Suprihatini Rohayati, Daya Saing Ekspor Teh Indonesia di Pasar Teh Dunia).

Meskipun potensi yang dimiliki cukup besar, sama halnya dengan ekspor produk pertanian Indonesia lainnya ke pasar internasional, komoditi teh juga menghadapi persoalan klasik yang selalu berulang. Setumpuk permasalahan – seperti penurunan volume, nilai, pangsa pasar ekspor dan rendahnya harga teh Indonesia – memberikan dampak buruk pada perkembangan industri teh. Kondisi ini membuat usaha perkebunan teh rakyat semakain terpuruk. Para petani harus menjual teh dengan harga Rp 400 – Rp 500 per kilogram sementara biaya perawatan teh mencapai Rp 700 per kg. Petani merugi dari tahun ke tahun (Kompas, 20 Desember 2004).

Di satu sisi komoditi teh mampu menjadi sumber pendapatan bagi negara dan masyarakat Indonesia, namun di sisi lain dengan permasalahan-permasalahan yang semakin berlarut-larut, komoditi teh dapat membunuh kehidupan petani/buruh dan industri ini secara pelan-pelan. Diperlukan penelitian yang lebih mendalam untuk membantu para petani/buruh teh menemukan jalan keluar dari keterpurukan ini. Berikut ini dijelaskan secara lebih mendetail bagaimana profil bisnis komoditi teh di Indonesia.

Perkembangan Luas Areal
Teh bukan tanaman asli Indonesia. Tanaman teh diperkenalkan pertama kali di Indonesia pada tahun 1686 oleh Dr. Andreas Cleyer sebagai tanaman hias. Pada tahun 1728 pemerintah Hindia Belanda mendatangkan bibit teh dalam bentuk biji-bijian dalam jumlah yang besar karena tertarik untuk membudidayakannya di pulau Jawa. Sayangnya, usaha tersebut tidak berhasil.

Usaha budidaya dilakukan kembali dengan bibit teh dari jepang yang dipromosikan oleh Dr Van Siebold setalah tahun 1824. Usaha perkebunan teh yang pertama dipelopori Jacobson pada tahun 1828 dan berkembang menjadi komoditi yang menguntungkan pemerintahan Hindia Belanda. Sejak saat itu teh menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam Paksa (Culture Stetsel).

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda perkebunan teh berkembang dan menyebar di tanah Indonesia. Setelah kemerdekaan, usaha perkebunan dan perdagangan teh diambil alih oleh pemerintah RI. Kini, perkebunan dan perdagangan teh juga dilakukan oleh pihak swasta.

Berbeda dengan komoditi Indonesia lainnya, teh tidak membutuhkan areal lahan yang luas seperti karet, kelapa sawit dan tebu. Meski demikian produktivitas teh tidak kalah apabila dibandingkan dengan komoditi lainnya. Bahkan produktivitas teh menempati urutan ketiga setelah kelapa sawit dan tebu.

Pada umumnya tanaman teh di Indonesia adalah 50% jenis medium grown, 20% high grown tea. Sisanya 30% adalah jenis low grown yang merupakan hasil grade medium grown yang bermutu rendah (Kantor Pemasaran Bersama PTPN). Jenis teh ini didasarkan pada ketinggian lahan.

Kualitas teh sangat ditentukan oleh ketinggian tempat penanaman. Teh membutuhkan lahan yang tinggi. Tidaklah mengherankan apabila Jawa Barat menjadi propinsi yang memiliki luas lahan perkebunan teh terbesar di Indonesia karena wilayah tersebut mempunyai banyak dataran tinggi yang cocok untuk tanaman ini.
Lahan yang digunakan untuk perkebunan teh di Indonesia semakin berkurang dari tahun ke tahun. Jika dihitung secara keseluruhan pertumbuhan luas areal teh pada tahun 2004 mengalami penurunan – 0,58%. Lahan-lahan ini sebagian dikonversi menjadi kebun kelapa sawit, sayuran dan tanaman lainnya yang dianggap lebih menguntungkan. Bahkan sebagian petani teh telah menjual tanah mereka karena dinilai tidak lagi mendatangkan keuntungan (Kompas,11 Maret 2004).

PRODUKSI
Penurunan areal teh di Indonesia telah mempengaruhi jumlah produksi teh nasional. Penurunan pertumbuhan produksi teh pada tahun 2004 berkisar – 2,95%. Meski demikian, di beberapa propinsi seperti Jawa Tengah, DIY dan Sumatera Barat, penurunan areal tidak berpengaruh pada produksi mereka, bahkan produksi teh mengalami peningkatan.
Dalam hal produksi, Jawa Barat merupakan penghasil teh terbesar di Indonesia. Propinsi ini menghasilkan 70% dari total produksi teh nasional. Propinsi lain yang juga merupakan penghasil teh terbesar adalah Sumatera Utara dan Jawa Tengah.

Perusahaan Teh
Tanaman teh mempunyai berbagai macam manfaat. Dalam industri, bagian tanaman teh yang sering dimanfaatkan adalah batang dan daun. Batang teh dapat digunakan untuk industri kerajinan kayu. Sementara itu daunnya dapat dikonsumsi dalam beberapa bentuk seperti yang diterangkan dalam bagan pohon industri teh.
Perkebunan teh yang dikelola oleh pemerintah Hindia Belanda diambil alih oleh pemerintah RI sejak kemerdekaan dan dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Meski demikian dalam manajemen di tingkat perkebunan, proses pengolahan bahkan sampai teknologi, perusahaan milik negara ini masih menggunakan teknologi atau mesin buatan Belanda. Dalam perkembangannya potensi besar dalam komoditi teh ini tidak hanya dilirik oleh BUMN, namun juga perusahaan swasta. Perusahaan-perusahaan swasta melakukan pengelolaan industri teh dari hulu hingga hilir. Menurut data Statistik Indonesia tahun 2004, terdapat 143 perusahaan perkebunan di Indonesia pada tahun 2004 baik yang dikelola oleh swasta maupun BUMN.

Peringkat sepuluh besar perusahaan teh Indonesia didominasi oleh BUMN. Hal ini terjadi karena trend penggabungan BUMN-BUMN dalam satu manajemen sehingga menjadi sebuah perusahaan teh yang besar. Daftar sepuluh besar perusahaan teh di Indonesia dapat dilihat dari table berikut.
PERKEMBANGAN EKSPOR
Penjualan komoditi teh Indonesia sangat bergantung pada ekspor. Enam puluh lima persen produksi teh Indonesia ditujukan pada pasar ekspor. Kondisi ini tidak lepas dari peran dan kebijakan pemerintah yang ingin menggalakan penerimaan devisa dengan mendorong produsen untuk berorientasi pada ekspor (Bisnis Indonesia, 3 Desember 2004).

Ketergantungan ini menimbulkan implikasi yang buruk pada perkembangan teh di Indonesia. Harga teh di Indonesia sangat dipengaruhi oleh jumlah permintaan dan ketersediaan komoditi teh di tingkat dunia. Apabila pasokan dunia berlimpah maka, harga teh Indonesia akan merosot drastic. Akibatnya, banyak petani yang mengalami kerugian karena menjual teh dengan harga di bawah biaya perawatan akhirnya menjual tanah perkebunan tehnya atau mengkonversi menjadi perkebunan kelapa sawit, sayuran dan lain-lain.

Perkembangan ekspor teh mengalami penurunan selama sembilan tahun terakhir ini yaitu dari tahun 1993 dengan jumlah 123.900 ton menjadi 100.185 ton pada tahun 2002. Rata-rata perkembangan ekspor teh menurun 2,1% per tahun. Hal ini disebabkan oleh lemahnya daya saing teh Indonesia di pasar dunia. Lonjakan ekspor teh baru terjadi pada tahun 2003.
Lonjakan ekspor teh pada tahun 2003 tidak diteruskan pada tahun 2004. Pada tahun 2004 Indonesia mengalami penurunan ekspor teh dan hanya mencapai volume sebesar 88.176 ton. Penurunan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor termasuk adanya penurunan konsumsi di Inggris dan negara-negara Eropa lainnya.

Pangsa pasar teh Indonesia terus mengalami penurunan. Bahkan beberapa pasar utama teh yang dikuasai Indonesia telah diambil alih oleh negara produsen teh lainnya. Pasar-pasar yang kurang dapat dipertahankan Indonesia adalah Pakistan, Inggris, Belanda, Jerman, Irlandia, Rusia, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Siria, Taiwan, Mesir, Maroko, dan Australia (Suprihatini, 2000). Indonesia mengalami penurunan pangsa pasar dari 5,4% di tahun 1997 menjadi 3,9 pada tahun 2001. Dari data penguasaan pangsa nilai ekspor seluruh jenis teh, pada tahun 2001 Indonesia merupakan negara pengekspor teh terbesar pada urutan ketujuh di dunia setelah India (18,9%), Cina (17,1%), Sri Lanka (15,2%), Kenya (7,9%), Inggris (7.9%) dan Uni Emirat Arab (4%).

Dengan jumlah pangsa pasar ekspor yang semakin kecil dan sebagian besar produk ekspor berupa produk hulu yaitu teh curah, nilai ekspor Indonesia semakin jauh tertinggal dibanding dengan negara-negara lain. Berbeda dengan negara-negara seperti Jepang, Inggris, Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab, Meskipun mereka mengimpor teh, tetapi mereka mampu memberikan nilai tambah pada teh dengan mengolahnya menjadi produk hilir dan mengekspornya dengan harga lebih tinggi. Tabel komposisi ekspor teh beberapa negara tahun 2001 di bawah menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara pengekspor produk hilir teh terbesar dibanding negara-negara pengekspor lainnya. Kurang berkembangnya industri hilir teh di dalam negeri menyebabkan harga jual teh Indonesia tetap rendah.
Ekspor tertinggi teh Indonesia adalah teh hitam curah. Ekspor komoditi jenis ini mencapai 85,5%. Sementara itu, sebagian besar pertumbuhan pasar teh hitam curah dunia justru mengalami penurunan. Hanya negara-negara tertentu saja yang mengalami peningkatan pertumbuhan pasar, misalnya negara Uni Emirat Arab, Federasi Rusia, Jepang dan Polandia. Pasar teh hitam curah di Ingris, Jerman dan Amerika Serikat diduga telah menglami kejenuhan yang tercermin dari pertumbuhan pasarnya yang negatif (Rohayati Suprihartini, Daya Saing Ekspor Teh Indonesia di Pasar Teh Dunia).

Pertumbuhan pasar teh hijau curah dunia justru menunjukkan kecenderungan meningkat. Namun jumlah ekspor Indonesia untuk komoditi teh hijau curah masih kecil, hanya 8,4%. Secara umum kondisi daya saing teh hijau curah Indonesia di pasar teh dunia relatif lebih baik dibanding dengan komoditas teh hitam curah. Indonesia masih mempunyai peluang untuk meningkatkan ekspor teh hijau curah karena potensi pasar dunia untuk komoditi ini masih cukup besar.

Beberapa negara di dunia mengalami kecenderungan penurunan pertumbuhan pasar teh hitam kemasan. Meski demikian, ada beberapa negara yang mempunyai pertumbuhan pasar teh hitam tinggi antara lain Saudi Arabia, Amerika Serikat, Kanada dan Perancis. Pertumbuhan pasar teh hitam kemasan tertinggi adalah Saudi Arabia. Sayangnya, pada tahun 1997 dan 2001 belum terdapat ekspor teh hitam kemasan Indonesia ke pasar Saudi Arabia.

Pasar utama produk teh hijau kemasan yang memiliki pertumbuhan pasar tinggi adalah Jepang, Maroko, Perancis, Amerika Serikat, Saudi Arabia dan Kanada. Diantara negara-negara tersebut, hanya Saudi Arabia yang menjadi negara tujuan utama ekspor teh hijau kemasan Indonesia. Padahal di dalam pasar ini, Indonesia hanya menguasai pangsa pasar sebesar 2,5% dan kalah bersaing dengan teh hijau kemasan asal Sri Langka (Rohayati Suprihartini, Daya Saing Ekspor Teh Indonesia di Pasar Teh Dunia).

IMPOR TEH INDONESIA
Saat ini, impor teh Indonesia menunjukkan kecenderungan yang naik. Pada tahun 2001 impor teh Indonesia tercatat 2.632 ton dengan nilai US$ 3juta dan mengalami kenaikan hingga 3.526 ton pada tahun 2002. Meningkatnya volume impor teh didorong oleh munculnya restoran-restoran yang menyajikan masakan China, Vietnam dan Thailand (www.bisnis.com).
KONSUMSI & HARGA TEH
Tabel Tingkat Konsumsi Teh Dunia Per Kapita/Tahun menunjukkan besarnya permintaan teh dunia. Ini merupakan peluang pasar bagi negara-negara produsen untuk memperoleh pendapatan. Negara-negara dengan tingkat konsumsi teh terbesar dapat menjadi pilihan target ekspor negara-negara produsen teh.

Sayangnya, tingkat konsumsi teh negara Indonesia justru paling kecil dibanding negara-negara lain di dunia. Meskipun mengalami kenaikan tiap tahunnya, jumlah konsumsi teh Indonesia belum memberikan kontribusi yang signifikan bagi penjualan domestik komoditi teh. Salah satu sebab rendahnya konsumsi teh dalam negeri adalah kurangnya informasi manfaat teh sebagai minuman kesehatan.

Harga komoditi Indonesia sangat ditentukan oleh supply dan demand teh internasional. Harga teh Indonesia mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2002, harga teh Indonesia lebih tinggi dibanding dengan harga pada tahun 2003. Harga teh kembali naik pada tahun 2004.

Tabel Harga Teh Indonesia di Pasar Ekspor
Tahun
2001
2002
2003

Harga/Kg
96,36
101,33
95,53

(Sen Dollar AS)

Sumber: Suara Merdeka 6 Januari 2005
Meski mengalami kenaikan harga pada tahun 2004, harga teh Indonesia masih jauh dibandingkan dengan pusat lelang teh lainnya di dunia, misalnya di Colombo Tea Auction (Sri Langka) 164,47 sen dollar AS/Kg dan Kenya 163,00 sen dollar AS/Kg. Selain supply dan demand teh dunia, harga teh juga ditentukan oleh kualitas produksi.

Pada tahun 2006, harga teh Indonesia berpotensi mengalami kenaikan. Kenaikan ini disebabkan oleh faktor penurunan produksi teh dari negara Kenya. Produksi Kenya mengalami penurunan sebesar 40% karena kemarau. Hal ini memberikan dampak positif pada harga teh Indonesia yang kini menikmati rata-rata US$1.6 per Kg. Kenaikan ini merupakan harga tertinggi sejak 8 tahun terakhir. Bahkan harga teh kualitas baik mampu mencapai US$2.6 per Kg atau mampu naik 100% dari sebelumnya (Kompas, 15 Februari 2006)
PENUTUP
Pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang ketentuan penetapan harga pembelian pucuk teh produksi petani dalam Keputusan Menteri Kehutanan No 629 Tahun 1998. Tujuan dari kebijakan tersebut adalah untuk menjamin perolehan harga yang wajar dari pucuk teh produksi petani dan mencegah persaingan tidak sehat di antara pabrik pengolahan teh. Dalam keputusan tersebut mensyaratkan adanya penetapan harga pucuk teh di tingkat petani yang dilakukan oleh masing-masing perusahaan bersama-sama dengan petani/kelembagaan petani dengan berpedoman pada hasil perumusan Tim Penetapan Pembelian Pucuk Teh. Pemerintah juga menetapkan rumus harga pembelian pucuk teh sebagai berikut:

HP = R (HJ-B)
HP : Harga pucuk teh yang diterima oleh petani di tingkat pabrik, dinyatakan dalam
Rp/Kg pucuk teh basah
R : Rendemen rata-rata pucuk teh basah menjadi teh kering yang dinyatakan dalam
persentase (%)
HJ : Harga riil rata-rata tertimbang realisasi penjualan ekspor (FOB) dan local masing-
masing perusahaan selama 2 (dua) minggu sebelumnya, sesuai komposisi jenis dan
mutu teh yang dihasilkan, dinyatakan dalam Rp/Kg
B : Biaya olah yang meliputi biaya pengolahan, pemasaran dan penyusutan yang
dikeluarkan oleh perusahaan dan dinyatakan dalam Rp/Kg teh kering

Indonesia memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan komoditi teh mengingat kesesuaian lahan dengan iklim tanaman. Lahan yang luas dan produktivitas tanaman teh yang tinggi mampu membawa Indonesia menduduki posisi kelima sebagai negara produsen dan eksportir terbesar di Dunia. Indonesia juga memiliki banyak perusahaan baik milik pemerintah maupun swasta yang mengelola komoditas teh dari hulu hingga hilir.

Komoditas teh sangat dibutuhkan oleh masyarakat dunia karena berbagai manfaat yang dimilikinya. Tingkat konsumsi teh dunia sangat besar. Ini merupakan peluang pasar bagi Indonesia untuk menjual komoditi tersebut. Potensi pasar teh dunia yang cukup besar mengharuskan Indonesia memiliki daya saing produk yang tinggi untuk dapat memasarkan teh di tingkat internasional. Beberapa negara pesaing Indonesia adalah India, Sri Langka, Kenya dan Cina. Nilai ekspor komoditas teh Indonesia masih kecil dibanding dengan produk-produk dari negara pesaing karena Indonesia lebih banyak menjual produk-produk hulu teh yang tidak memiliki nilai tambah dan dihargai dengan sangat murah.

Meski produksi teh Indonesia setiap tahun mengalami peningkatan, namun semakin banyak pula petani yang menjual tanah perkebunan tehnya atau mengkonversi lahannya menjadi perkebunan kelapa sawit atau tanaman sayuran karena mengalami kerugian besar dalam pembudidayaannya. Harga teh yang terus merosot setiap tahun menyebabkan para petani harus menanggung biaya perawatan dan budidaya tanaman tehnya. Perhatian pemerintah Indonesia terhadap pengembangan komoditi teh masih sangat kecil. Hal ini diperlihatkan dari sedikitnya kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk melindungi dan mengembangkan industri teh dari hulu hingga hilir.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar